
Sima, Pemalang – Pagi ini, matahari seolah terbit lebih anggun di ufuk Timur. Udara sejuk menyelimuti halaman luas yang biasanya riuh dengan derap langkah sepatu sekolah, kini berubah menjadi Susana hikmat . Di bawah naungan langit biru, keluarga besar MA Modern Al Faqih dan SMP Islam Modern Al Faqih berkumpul untuk merajut kembali memori tentang sosok yang memecah gelapnya pingitan dengan lentera ilmu, Raden Ajeng Kartini.

Upacara peringatan hari ini bukan sekadar seremoni baris-berbaris. Barisan siswa siswi serta guru dan staff karyawan yang mengenakan kebaya elok tampak seperti taman bunga yang sedang mekar (Selasa, 21 April 2026).
Setiap langkah mereka menuju lapangan upacara seolah membisikkan pesan bahwa emansipasi bukanlah tentang meninggalkan jati diri, melainkan tentang keberanian untuk bermimpi setinggi langit tanpa melupakan akar tradisi dan nilai Islami.

Dalam amanatnya Ibu Furqotun, S.Pd. selaku Pembina Upacara menyampaikan betapa pentingnya menjaga api literasi yang dahulu dinyalakan oleh Kartini melalui surat-suratnya.
”Kartini tidak berjuang dengan pedang, melainkan dengan ketajaman pikiran dan ketulusan hati. Di sekolah modern ini, kalian adalah Kartini-Kartini masa kini yang memegang pena untuk menuliskan sejarah baru bagi bangsa dan agama,” ujar beliau di hadapan siswa siswi yang menyimak dengan takzim.
Peringatan Hari Kartini di MA Modern Al Faqih dan SMP Islam Modern Al Faqih ditutup dengan doa bersama. Harapannya sederhana namun mendalam agar dari rahim sekolah ini, lahir generasi yang cerdas secara intelektual, namun tetap lembut dalam budi pekerti layaknya Kartini yang selalu merindu akan kemajuan bagi kaumnya.
Hari ini, di Lapangan Upacara Pondok Pesantren Al Faqih, semangat itu tidak hanya dirayakan, tetapi dihidupkan kembali dalam sanubari setiap insan pendidikan. Bahwa “Habis Gelap Terbitlah Terang” bukan sekadar judul buku, melainkan janji masa depan yang cerah bagi mereka yang tak lelah belajar.

