BAIK DAN TIDAKNYA KETURUNAN TERGANTUNG PADA BAIK DAN TIDAKNYA ISTRI
Dalam ayat yang berupa do’a tersebut, dimulai dengan lafadz : أزواجنا (istri), karena (dengan) sholehahnya istri akan menghasilkan keturunan yang sholih.
BAIK DAN TIDAKNYA KETURUNAN TERGANTUNG PADA BAIK DAN TIDAKNYA ISTRI
Dalam ayat yang berupa do’a tersebut, dimulai dengan lafadz : أزواجنا (istri), karena (dengan) sholehahnya istri akan menghasilkan keturunan yang sholih.
SAHABAT YANG BAIK ADALAH NI’MAT ALLOH YANG SANGAT AGUNG
“Di antara kenikmatan terbesar yang Allah subhanahu wata’ala berikan kepada hamba-Nya yang beriman adalah dia (Alloh) memberinya taufiq (kekuatan dan kemapuan) untuk bersahabat dengan orang-orang yang baik. (Sebaliknya,) termasuk hukuman-Nya terhadap hamba-Nya adalah dia diuji dengan bersahabat dengan orang-orang yang jelek.
Bersahabat dengan orang-orang yang baik akan mengantarkan seorang hamba ke tempat yang tinggi (surga tertinggi). Adapun bersahabat dengan orang-orang yang jelek akan mengantarkan hamba ke tempat yang paling rendah (neraka).
Bersahabat dengan orang-orang yang baik membuahkan ilmu yang bermanfaat, akhlak yang mulia, dan amalan-amalan yang shalih. Adapun bersahabat dengan orang-orang yang jelek bisa menghalangi semua (kebaikan) tersebut.”
Tonton juga videonya. Jangan lupa subscribe, agar saudara tidak ketinggalan update terbaru dari Mafaza Apik.
Kitab Bahjatu Qulubil Abrar wa Qurratu ‘Uyuni al-Akhyar fi Syarhi Jawami’ al-Akhbar,).
![]() |
| Ilustrasi |
Assalamualaikum warahmatullahi wa Barokatuh. Mari kita renungkan khadis berikut, dan semoga bermanfaat di dunia dan akhirat. Aamiin ya Allah.
By Ustadz Ardi Murtadla
Ibnu Abbas pernah bertanya kepada ‘Atha bin Abi Rabah,
“Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?”
Jawab ‘Atha,
“Tentu.”
Ibn Abbas lalu berkata,
“Wanita berkulit hitam itu. Dia pernah datang kepada Nabi saw., lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku sering tersingkap (saat penyakitnya kambuh). Karena itu doakanlah aku agar Allah menyembuhkan penyakitku.’ Nabi saw. berkata, ‘Jika engkau mau, engkau bisa bersabar dan bagi engkau surga. Jika engkau mau, aku akan berdoa agar Allah menyembuhkan dirimu.’ Wanita itu menjawab, ‘Aku memilih bersabar saja. Namun, saat penyakit ayan menimpaku, auratku sering tersingkap. Karena itu doakanlah agar auratku tak tersingkap.’ Lalu Nabi saw. pun mendoakan wanita itu.”
(HR al-Bukhari dan Muslim).
Tidak! Bukan itu yang ia keluhkan dan yang membuat ia malu. Ia mengeluh dan merasa malu karena auratnya sering tersingkap saat penyakitnya kambuh. Subhanallah
Padahal saat penyakit ayan itu datang, ia tentu dalam keadaan hilang akal. Jika pun tersingkap auratnya dalam keadaan hilang akal, tentu ia tak berdosa. Namun demikian, wanita penghuni surga itu tetap sangat khawatir bila auratnya tersingkap meski dalam keadaan sakit dan tidak sadar.
Lalu bagaimana dengan kebanyakan wanita zaman sekarang, yang saat sehat dan dalam keadaan sadar pun,
Saudariku, kecantikan yg kau miliki hanyalah topeng jadi jangan sampai topengmu yg kau kenakan saat ini membuatmu lupa diri dan sombong.
Ingat saudariku, 10/15 tahun Lgi topengmu akan memudar dan kau tak lagi dihargai banyak orang, maka jangan kau tertipu dengan topeng yg fana’ tutuplah auratmu sebelum kain kafan menjadi penutup auratmu.
Smoga manfaat.