
Sima, Pemalang – Ketika sang fajar menyapa pagi dengan semburat emasnya, keheningan Senin mendadak berubah menjadi simfoni kebangsaan yang khidmat. 1 Juni 2026, halaman utama Pondok Pesantren Al-Faqih menjadi saksi bisu bersatunya tekad dan rasa cinta tanah air. Seluruh siswa siswi, guru, dan staf dari MA Modern Al-Faqih serta SMP Islam Modern Al-Faqih berdiri tegak, menyatu dalam upacara peringatan Hari Lahir Pancasila.
Suasana khusyuk begitu lekat terasa saat angin pagi berembus perlahan, mengiringi derap langkah tegap pasukan pengibar bendera. Di bawah langit Juni yang cerah, Sang Merah Putih perlahan beranjak naik, meniti tiang tertinggi, membawa serta doa dan harapan bangsa yang dititipkan pada pundak generasi muda.
Pancasila bukan sekadar untaian kata yang dihafal, melainkan napas yang harus dihirup dalam setiap jengkal kehidupan. Dalam amanatnya, Ibu Hj. Furqotun S.Pd. Selaku pembina upacara menyampaikan pesan mendalam yang menyentuh sanubari para peserta upacara.
”Pancasila adalah titik temu dari segala keberagaman kita. Di lembaga yang modern dan berlandaskan islami ini, nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan harus menjadi fondasi utama. Menjadi modern bukan berarti melupakan akar sejarah, melainkan membawa nilai luhur bangsa ini terbang tinggi menembus zaman.”
Gema pembacaan teks Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 terdengar lantang, memecah kesunyian pagi, seolah menegaskan kembali janji suci untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Upacara yang diikuti oleh ratusan siswa berseragam rapi ini menjadi refleksi nyata betapa indahnya harmoni antara nilai-nilai keislaman dan semangat kebangsaan. Di tangan para siswa siswi MA Modern Al faqih dan SMP Islam Modern Al-Faqih, Pancasila tidak hanya dijaga sebagai ideologi negara, tetapi juga diamalkan sebagai wujud syukur atas nikmat kedamaian di bumi pertiwi.
Ketika doa penutup dipanjatkan, sebaris harapan melangit memohon agar kiranya Tuhan Yang Maha Esa senantiasa menjaga bangsa ini dalam persatuan yang kokoh. Upacara pun usai, namun getaran semangat 1 Juni dipastikan tidak akan padam ia akan terus menyala di dalam dada, menjadi suluh yang menerangi jalan pengabdian mereka bagi agama dan bangsa

